Djodi Raih “Best Position Paper” dalam Sidang INTERPOL

  • Kepala Keilmuan IKABSIS, Mohamad Djodi Hardi Prajuri, mahasiswa Program Studi Prancis angkatan 2012, berhasil meraih penghargaan “Best Position Paper” dalam INTERPOL General Assembly Simulation 2015 di Semarang pada tanggal 10 – 11 Oktober lalu. Djodi bertolak ke Semarang pada Kamis malam (8/10) selepas menghadiri undangan acara temu diplomat dan sosialisasi Climate Change Summit Paris 2015 (COP21) di Kedutaan Besar Prancis di Jakarta pada waktu sore hari yang sama. Simulasi sidang akbar internasional INTERPOL tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Diponegoro bekerja sama dengan NCB (National Central Bureau) INTERPOL Indonesia. Mahasiswa penyuka makan ini bertindak sebagai delegasi dari negara Belgia dalam sidang yang dihelat di Ballroom Hotel Ibis Semarang tersebut. Dalam sidang tersebut, Djodi juga dinobatkan sebagai Expert atau dewan khusus/ahli dalam bidang Artefacts (Artefak). Selain itu, arek Malang kelahiran 22 Juni 1994 ini juga menyabet gelar Superlative Award sebagai “The Peace Maker” atau delegasi yang paling membawa/mempromosikan perdamaian dalam sidang tersebut. INTERPOL General Assembly Simulation kali ini dihadiri oleh AKBP Reinhard Hutagaol SIK dari Divisi Hubungan Internasional POLRI dan Muh. Al Waffi sebagai dua perwakilan dari NCB INTERPOL Indonesia. Sidang itu diikuti oleh 62 anggota majelis mewakili 62 negara yang diwakili oleh peserta dari berbagai universitas, di antaranya UNDIP, UNSOED, UKSW, UNNES, UNRIYO, UII, ITS, UIN Jakarta, UGM, UI, UNHAS, Universitas Trisakti, dan President University. Djodi sendiri mengaku tidak menyangka mampu meraih pencapaian sedemikian rupa mengingat itu merupakan kali pertamanya mengikuti sidang semacam MUN (Model United Nations). “Ini benar-benar pertama kalinya aku mengikuti sidang semacam MUN. Awalnya aku agak ‘lolak-lolok’, tapi lama kelamaan mengerti dan mampu mengikuti ritme panas sidang. Peserta lainnya didominasi anak HI dan sudah lama bergelut di MUN tapi aku bisa seperti ini itu gak nyangka”. Dalam sidang kali itu, terdapat empat penghargaan utama dan bergengsi yang diberikan kepada empat delegasi terbaik. Djodi yang merupakan delegasi Belgia berhasil meraih penghargaan “Best Position Paper” dalam sidang tersebut. Delegasi Sudan yang berasal dari UNDIP berhasil menyandang penghargaan “Honorable Mention” dan delegasi Prancis yang berasal dari ITS menyabet penghargaan “Most Outstanding Delegate”. Sementara itu, predikat “Best Delegate” tahun ini berhasil diraih oleh mahasiswi UNHAS yang menjadi delegasi Amerika Serikat dalam sidang INTERPOL tersebut. Topik besar yang dibahas dalam sidang majelis umum tersebut adalah keberadaan ISIS (Islamic State in Iraq and Greater Syria) yang kian menjadi ancaman dunia keamanan internasional dan merupakan salah satu fokus utama INTERPOL saat ini. Dalam topik kali itu, terdapat enam isu besar berkaitan dengan ISIS yang menjadi bahasan tiap komite dalam sidang tersebut, yaitu: Cybercrime, Public Awareness, Funding, Fusion Task Force, Radicalism, dan Artefacts. Isu Cybercrime menitikberatkan persoalan pada penyalahgunaan Bitcoins oleh ISIS untuk kepentingan transaksi ilegal. Public Awareness membahas soal pentingnya warga dunia untuk mulai menaruh perhatian pada keberadaan kelompok ekstremis tersebut. Isu sumber kekayaan dan pendanaan kegiatan operasional ISIS serta donatur hitam ISIS dibahas dalam Funding. Fusion Task Force merupakan isu hangat INTERPOL yang ingin melawan pergerakan ISIS melalui bala kekuatan badan intelijen yang dimiliki. Isu Radicalism memfokuskan pada urgensi maraknya ektremisme dan radikalisasi yang dilakukan oleh jaringan ISIS yang tersebar di banyak negara. Sementara itu, Artefacts membahas solusi terhadap tindakan kelompok militan ISIS yang telah dan ingin menghancurkan situs-situs bersejarah warisan dunia di Irak dan Suriah, penjarahan barang-barang antik dari museum, serta perdagangannya di pasar gelap oleh jaringan ISIS. Keenam isu tersebut dibahas dan dicari solusinya masing-masing dalam enam committee session selama dua hari sidang berjalan. Seluruh solusi yang tercipta dari komite pertama hingga terakhir akan digunakan dalam pembuatan rancangan resolusi (draft resolution) di akhir sidang. Akan tetapi, karena alasan keterbatasan waktu, enam komite dipersingkat menjadi empat komite dengan menggabungkan isu Artefacts, Radicalism, dan Public Awareness ke dalam satu sesi komite….

    26 Oct
    26 Oct
  • Dua staf pengajar Program Studi Prancis Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) akan melewati proses akhir untuk meraih gelar Doktor sebagai gelar akademik tertinggi. Mereka akan menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor dalam beberapa hari ke depan di Auditorium Gedung IV FIB UI. Ari Anggari Harapan, S.S., M.Hum., pengajar Sejarah – Kebudayaan Prancis, akan mempertahankan disertasinya yang berjudul “Traktat Amiens 1802: Konflik dan Polarisasi Politik Eropa Awal Abad XIX Serta Imbasnya di Hindia Timur” di hadapan tujuh penguji pada tanggal 30 Juni 2015. Para penguji itu adalah Prof. Dr. Djoko Marihandono, M.Si. (promotor), Dr. Yuda B. Tangkilisan, S.S. M.Hum. (ko-promotor), Prof. Dr. Susanto Zuhdi, Dr. Mohammad Iskandar, S.S. M.Hum., Dr. Bondan Kanumoyoso, S.S., M.Hum., Dr. Anhar Gonggong, dan penguji tamu Prof. Helius Sjamsuddin, Ph.D., M.A. Seminggu kemudian, pada tanggal 7 Juli 2015 di tempat yang sama, giliran pengajar mata kuliah bidang Sastra, Suma Riella Rusdiarti, S.S., M.Hum., akan berjuang mempertahankan disertasinya di depan tujuh penguji yang berbeda. Mereka adalah Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno (promotor), Prof. Melani Budianta, Ph.D. (ko-promotor), Manneke Budiman, Ph.D., Dr. Polit.Sc. Henny Saptatia D.N., M.A., Tommy Christomy, Ph.D., Dr. Fauzan Muslim, M.Hum., serta penguji tamu yang juga Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dr. Wagiono Sunarto. Disertasi Riella berjudul “Kaidah, Makna das Unheimliche, dan Konstruksi Nilai – Kajian Genre atas Empat Film Horor Rumah Angker Indonesia”, mengambil korpus empat film horor nasional: Rumah Pondok Indah (Irwan Siregar, 2006), Pocong 2 (Rudi Soedjarwo, 2006), Hantu Rumah Ampera (Rudi Soedjarwo, 2009), dan Rumah Kentang (Jose Poernomo, 2012).

    28 Jun
    28 Jun
  • Selama 4 tahun atau 8 semester berjalan, sejak tahun 2010 hingga 2014, Program Studi Prancis FIB UI berhasil mengirimkan 12 (dua belas) mahasiswa dalam program double degrée ke Prancis. Mereka tersebar pada dua kampus yakni, Unité de Formation et de Recherche INGENIERIE du TOURISME, du BATIMENT et des SERVICES (UFR I.T.B.S) de l’Université d’Angers dan INALCO (Institut des Langues et Civilisations Orientales) di Paris. Pada kampus Université d’Angers, dua mahasiswa yang dikirim setiap tahunnya disebar pada dua lokasi yang berbeda. Satu di kota Angers, dan yang lain berkuliah di kota, Saumur, tempat Le Campus de Saumur (Université d’Angers) berada. Berikut adalah daftar nama mahasiswa yang pernah mengikuti program tersebut.

    04 Apr
    04 Apr
  • Sejak tahun 2010, dalam dua tahun akademik, Program Studi Prancis FIB UI telah berhasil mengirimkan 6 (enam) mahasiswanya ke Unité de Formation et de Recherche INGENIERIE du TOURISME, du BATIMENT et des SERVICES (UFR I.T.B.S) de l’Université d’Angers untuk memperoleh ijazah Licence de Tourisme et de Civilisation. Dua dari keenam mahasiswa berhasil pula diterima untuk melanjutkan studi ke taraf maîtrise (setaraf M.A.), namun hanya satu orang yang melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Satu orang lagi pulang ke tanah air untuk melanjutkan studi jenjang S2 dalam bidang susastra agar dapat segera menyumbangkan ilmunya di Program Studi Prancis FIB UI. Pada tahun akademik 2013/2014, tercatat 2 (dua) orang mahasiswa angkatan 2009 yang akan mengikuti program yang sama. Program unggulan ini dapat terjadi berkat hubungan baik yang dilakukan oleh Program Studi Prancis FIB UI dengan beberapa mitra universitas di Prancis, Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, serta Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Ketiga institusi tersebut sangat berperan dalam memberikan kesempatan memeroleh double degrée dan beasiswa kepada mahasiswa yang terpilih.

    08 Mar
    08 Mar
  • Pusat Studi Prancis dan Frankofon (Centre d’Études Françaises et Francophones) adalah sebuah lembaga kajian yang sedang digodok proposal pendiriannya. Pendirian pusat studi ini dimotori oleh beberapa staf pengajar Program Studi Prancis FIB UI. Untuk mempermudah penyebutan, nama organisasi ini disingkat dengan kata akronim ‘CEFF’ atau CEFF Indonesia. Pusat studi ini menitikberatkan pada penelitian yang terkait dengan Prancis dan atau negara-negara frankofon. Tema dan perspektif penelitian tak hanya tentang hubungan Prancis dengan negara-negara frankofon semata, tetapi juga berisi penelitian tentang negara-negara frankofon itu sendiri. Artinya, tak menutup kemungkinan, bila CEFF Indonesia melakukan penelitian dan kerjasama dengan salah satu negara frankofon dengan tema tertentu yang relevan.

    08 Mar
    08 Mar

Kami akan menjawab email Anda dalam 24 jam, kecuali pada hari libur. Semua email yang masuk akan kami jaga kerahasiaannya.

Terima kasih telah menghubungi kami.

Enter a Name

Enter a valid Email

Message cannot be empty