Djodi Raih “Best Position Paper” dalam Sidang INTERPOL

  • Kepala Keilmuan IKABSIS, Mohamad Djodi Hardi Prajuri, mahasiswa Program Studi Prancis angkatan 2012, berhasil meraih penghargaan “Best Position Paper” dalam INTERPOL General Assembly Simulation 2015 di Semarang pada tanggal 10 – 11 Oktober lalu. Djodi bertolak ke Semarang pada Kamis malam (8/10) selepas menghadiri undangan acara temu diplomat dan sosialisasi Climate Change Summit Paris 2015 (COP21) di Kedutaan Besar Prancis di Jakarta pada waktu sore hari yang sama. Simulasi sidang akbar internasional INTERPOL tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Diponegoro bekerja sama dengan NCB (National Central Bureau) INTERPOL Indonesia. Mahasiswa penyuka makan ini bertindak sebagai delegasi dari negara Belgia dalam sidang yang dihelat di Ballroom Hotel Ibis Semarang tersebut. Dalam sidang tersebut, Djodi juga dinobatkan sebagai Expert atau dewan khusus/ahli dalam bidang Artefacts (Artefak). Selain itu, arek Malang kelahiran 22 Juni 1994 ini juga menyabet gelar Superlative Award sebagai “The Peace Maker” atau delegasi yang paling membawa/mempromosikan perdamaian dalam sidang tersebut. INTERPOL General Assembly Simulation kali ini dihadiri oleh AKBP Reinhard Hutagaol SIK dari Divisi Hubungan Internasional POLRI dan Muh. Al Waffi sebagai dua perwakilan dari NCB INTERPOL Indonesia. Sidang itu diikuti oleh 62 anggota majelis mewakili 62 negara yang diwakili oleh peserta dari berbagai universitas, di antaranya UNDIP, UNSOED, UKSW, UNNES, UNRIYO, UII, ITS, UIN Jakarta, UGM, UI, UNHAS, Universitas Trisakti, dan President University. Djodi sendiri mengaku tidak menyangka mampu meraih pencapaian sedemikian rupa mengingat itu merupakan kali pertamanya mengikuti sidang semacam MUN (Model United Nations). “Ini benar-benar pertama kalinya aku mengikuti sidang semacam MUN. Awalnya aku agak ‘lolak-lolok’, tapi lama kelamaan mengerti dan mampu mengikuti ritme panas sidang. Peserta lainnya didominasi anak HI dan sudah lama bergelut di MUN tapi aku bisa seperti ini itu gak nyangka”. Dalam sidang kali itu, terdapat empat penghargaan utama dan bergengsi yang diberikan kepada empat delegasi terbaik. Djodi yang merupakan delegasi Belgia berhasil meraih penghargaan “Best Position Paper” dalam sidang tersebut. Delegasi Sudan yang berasal dari UNDIP berhasil menyandang penghargaan “Honorable Mention” dan delegasi Prancis yang berasal dari ITS menyabet penghargaan “Most Outstanding Delegate”. Sementara itu, predikat “Best Delegate” tahun ini berhasil diraih oleh mahasiswi UNHAS yang menjadi delegasi Amerika Serikat dalam sidang INTERPOL tersebut. Topik besar yang dibahas dalam sidang majelis umum tersebut adalah keberadaan ISIS (Islamic State in Iraq and Greater Syria) yang kian menjadi ancaman dunia keamanan internasional dan merupakan salah satu fokus utama INTERPOL saat ini. Dalam topik kali itu, terdapat enam isu besar berkaitan dengan ISIS yang menjadi bahasan tiap komite dalam sidang tersebut, yaitu: Cybercrime, Public Awareness, Funding, Fusion Task Force, Radicalism, dan Artefacts. Isu Cybercrime menitikberatkan persoalan pada penyalahgunaan Bitcoins oleh ISIS untuk kepentingan transaksi ilegal. Public Awareness membahas soal pentingnya warga dunia untuk mulai menaruh perhatian pada keberadaan kelompok ekstremis tersebut. Isu sumber kekayaan dan pendanaan kegiatan operasional ISIS serta donatur hitam ISIS dibahas dalam Funding. Fusion Task Force merupakan isu hangat INTERPOL yang ingin melawan pergerakan ISIS melalui bala kekuatan badan intelijen yang dimiliki. Isu Radicalism memfokuskan pada urgensi maraknya ektremisme dan radikalisasi yang dilakukan oleh jaringan ISIS yang tersebar di banyak negara. Sementara itu, Artefacts membahas solusi terhadap tindakan kelompok militan ISIS yang telah dan ingin menghancurkan situs-situs bersejarah warisan dunia di Irak dan Suriah, penjarahan barang-barang antik dari museum, serta perdagangannya di pasar gelap oleh jaringan ISIS. Keenam isu tersebut dibahas dan dicari solusinya masing-masing dalam enam committee session selama dua hari sidang berjalan. Seluruh solusi yang tercipta dari komite pertama hingga terakhir akan digunakan dalam pembuatan rancangan resolusi (draft resolution) di akhir sidang. Akan tetapi, karena alasan keterbatasan waktu, enam komite dipersingkat menjadi empat komite dengan menggabungkan isu Artefacts, Radicalism, dan Public Awareness ke dalam satu sesi komite….

    26 Oct
    26 Oct
  • Dua staf pengajar Program Studi Prancis Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) akan melewati proses akhir untuk meraih gelar Doktor sebagai gelar akademik tertinggi. Mereka akan menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor dalam beberapa hari ke depan di Auditorium Gedung IV FIB UI. Ari Anggari Harapan, S.S., M.Hum., pengajar Sejarah – Kebudayaan Prancis, akan mempertahankan disertasinya yang berjudul “Traktat Amiens 1802: Konflik dan Polarisasi Politik Eropa Awal Abad XIX Serta Imbasnya di Hindia Timur” di hadapan tujuh penguji pada tanggal 30 Juni 2015. Para penguji itu adalah Prof. Dr. Djoko Marihandono, M.Si. (promotor), Dr. Yuda B. Tangkilisan, S.S. M.Hum. (ko-promotor), Prof. Dr. Susanto Zuhdi, Dr. Mohammad Iskandar, S.S. M.Hum., Dr. Bondan Kanumoyoso, S.S., M.Hum., Dr. Anhar Gonggong, dan penguji tamu Prof. Helius Sjamsuddin, Ph.D., M.A. Seminggu kemudian, pada tanggal 7 Juli 2015 di tempat yang sama, giliran pengajar mata kuliah bidang Sastra, Suma Riella Rusdiarti, S.S., M.Hum., akan berjuang mempertahankan disertasinya di depan tujuh penguji yang berbeda. Mereka adalah Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno (promotor), Prof. Melani Budianta, Ph.D. (ko-promotor), Manneke Budiman, Ph.D., Dr. Polit.Sc. Henny Saptatia D.N., M.A., Tommy Christomy, Ph.D., Dr. Fauzan Muslim, M.Hum., serta penguji tamu yang juga Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dr. Wagiono Sunarto. Disertasi Riella berjudul “Kaidah, Makna das Unheimliche, dan Konstruksi Nilai – Kajian Genre atas Empat Film Horor Rumah Angker Indonesia”, mengambil korpus empat film horor nasional: Rumah Pondok Indah (Irwan Siregar, 2006), Pocong 2 (Rudi Soedjarwo, 2006), Hantu Rumah Ampera (Rudi Soedjarwo, 2009), dan Rumah Kentang (Jose Poernomo, 2012).

    28 Jun
    28 Jun
  • “Semua manusia sama – sama berjuang di dalam hidup, namun ada yang memilih untuk berjuang dengan mengeluh tetapi ada juga yang memilih berjuang dengan bersyukur.” Pada tanggal 29 Desember 2012, saya menuju ke bandara Soekarno Hatta, ditemani oleh ibu saya. Selama perjalanan menuju bandara, saya merasa resah, takut meninggalkan Indonesia, menuju ke tempat lain, apalagi tempat tersebut adalah India. Jantung saya semakin berdetak kencang, sebelum saya berangkat, semua orang bertanya kepada saya, “Kok India, sih?’, “Kenapa harus India?”, “Hati – hati loh di India, apalagi kamu perempuan.”. Ya, stereotip mengenai India di mata orang banyak memang kurang bagus, negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi, banyak kasus kriminal, bahaya, kotor, bau, dan stereotip negatif lainnya. Tetapi saya sudah memutuskan, saya memilih India, saya pergi ke India dengan misi, untuk membantu anak terlantar yang ada di sana, dan juga untuk melawan rasa takut saya. Di bandara, ketika berpamitan dengan ibu saya, saya berkata, “Gimana nih Ma, takut banget.”. Ibu saya pun membalas, “Kamu sudah memilih, sekarang kamu jalani.”. Dan saya pun berjalan, meninggalkan zona nyaman saya. Sesampainya di New Delhi, rasa deg – degan masih menyelimuti saya, namun saya harus belajar adaptasi, belajar menggunakan transportasi umum di India, belajar makan makanan India, belajar sedikit bahasa India, dan yang paling penting, belajar mengenal penduduk lokal. Setelah saya memulai proses belajar tersebut, batin saya berkata, “Wah di sini sama seperti Jakarta ya, macetnya, polusinya, jam karetnya, ketidakdisiplinannya, sampah di pinggir jalannya, kalau saya tutup mata dan tidak tahu saya sedang berada di mana, begitu saya buka mata saya mungkin saya masih berpikir kalau saya sedang berada di Jakarta.”. Dengan memulai rutinitas saya mengajar di tempat penampungan anak – anak yang kurang mampu, orang – orang cacat dan terlantar, terutama yang sudah menginjak usia tua, serta hewan – hewan cacat tanpa pemilik, saya menyadari bahwa mereka semua berjuang untuk hidup, sama seperti saya, dan perjalanan saya mengenal diri dimulai dari sini. Mahatma Gandhi berkata, “Jika kita ingin mengajarkan kedamaian di dunia ini, baiklah kita memulainya dari anak kecil.”. Saya mengajar Bahasa Inggris kepada anak – anak India yang latar belakang ekonominya kurang kuat, ini merupakan misi yang besar untuk saya, dengan mengajar saya juga belajar bagaimana caranya menyampaikan materi kepada murid – murid saya, bagaimana cara murid – murid saya mengerti apa yang saya sampaikan. Saya pun menyadari, untuk dapat dimengerti oleh murid – murid saya, tentu saya harus memahami mereka terlebih dahulu, memahami perbedaan, dan ini merupakan misi yang lebih besar lagi untuk saya. Tetapi semangat yang mereka punya membuat saya lebih semangat lagi, saya tersentuh, karena dengan segala keterbatasan yang mereka punya, mereka tetap memilih untuk terus menjalani hidupnya dengan bahagia, tidak mengeluh harus berjalan jauh dari rumah menuju sekolah, mereka menikmati setiap detik perjalanan dengan teman – teman yang juga belajar di sekolah tersebut. Hal ini memberi pelajaran baru kepada saya, bahwa semua manusia sama – sama berjuang di dalam hidup, namun ada yang memilih untuk berjuang dengan mengeluh tetapi ada juga yang memilih berjuang dengan bersyukur. Saya merasa malu, selama ini saya selalu merasa keterbatasan yang saya punya semakin membuat hidup saya susah, dan saya terus mengeluhkan hal tersebut, tetapi belajar dari murid – murid saya sendiri, saya menyadari bahwa sulit atau mudahnya hidup, adanya di pikiran manusia, kalau manusia berpikir hidup itu sulit, ya hidup yang dijalaninya akan terasa sulit, kalau manusia berpikir bahwa hidup itu mudah, hidup yang dijalaninya akan terasa mudah. Di dalam hidup ini tidak ada yang absolut, Einstein berkata, gelap adalah keadaan di mana eksistensi terang tidak ikut berperan, begitu juga sebaliknya, terang adalah keadaan di mana eksistensi gelap tidak berperan, jadi memang akan selalu ada dua…

    21 Jun
    21 Jun
  • Suatu pagi… + Ah, saya mau pulang ke rumah orang tua saya. Cucian saya banyak. Delapan kilo. Lho, kenapa tidak kamu cuci di sini saja. ‘Kan berat membawanya’. + Tidak, mesin cuci di apartemen ini rusak. Ya, tapi kamu `kan bisa cuci pakai tangan saja. Sedikit-sedikit. Lagian bisa kamu lakukan di kamar mandi kamu’. Dia diam saja, berpikir…. Rupanya usul saya melalui pembicaraan dalam bahasa Prancis di telpon pagi tadi itu tidak nyambung ke dalam benak Sophie, salah seorang teman kuliah di Paris. Baginya masalah itu berhenti sampai di situ saja: dia tetap akan pulang mencuci pakaiannya di rumah orang tuanya yang tinggal cukup jauh di luar kota. Tapi bagi saya pembicaraan singkat tadi bahkan membuat saya tidak habis mengerti. Saya bertanya-tanya dalam hati: apakah perbendaharaan bahasa “cuci pakai tangan”­kah yang tidak ada di dalam `daftar kosa kata’ Sophie, ataukah kebiasaan mencuci pakai tanganlah yang tidak dia kenal di dalam kehidupannya sehari-hari. Kalau saya mengikuti pandangan Sapir-Whorf* yang dikenal kontroversial pada tahun limapuluhan, maka saya akan berpendapat bahwa teman saya itu tidak mengenal kosa kata ‘cuci pakai tangan’ di dalam perbendaharaan katanya, sehingga perilaku cuci pakai tangan itu tidak pernah hadir di dalam segi kehidupannya. Kata-kata itu tidak memiliki makna baginya. Padahal kata-kata itu memiliki makna yang besar bagi saya, dan bagi orang Indonesia pada umumnya. Dapat berarti murah, tidak menghabiskan waktu, dan sebagainya. Yang jelas cuci pakai tangan itu membuat hidup saya di Paris ini tidak menjadi stres. Hipotesis Sapir-Whorf saat itu mengatakan bahwa manusia terkungkung oleh bahasa. Bahasalah yang mempengaruhi pandangan hidup manusia. Manusia tidak dapat berpikir kecuali melalui bahasanya. Suatu pandangan yang sudah lama ditinggalkan orang, tetapi masih tetap menarik untuk diperbincangkan. Pandangan yang mungkin lebih banyak bisa diterima orang sampai sekarang adalah pandangan sebaliknya, yakni pandangan yang menganggap bahwa kebudayaan atau masyarakatlah yang mempengaruhi bahasa. Adanya tiga-ratus enampuluh lima jenis fromage ( keju ) di Prancis ini membuat dikenalnya leksikon comte, emmenthal, gruyere, cheddar, dan sebagainya. Pembedaan kata-kata beras, padi, gabah, dan nasi sangat penting bagi orang Indonesia yang makanan utamanya nasi. Kalau kita kembali kepada kasus cuci pakai tangan tadi, mungkin sejak kecil Sophie tidak pernah belajar membuat contoh kalimat ‘cuci pakai tangan’. Sehingga dia tidak mengenal kalimat yang menggunakan kata-kata itu. Kalimat itu akan terdengar aneh baginya. Sejak lahir dia hanya mengenal cuci pakai mesin, bukan cuci pakai tangan. Dia lahir sudah di zaman budaya mesin, dan tentu saja pola berpikirnya sudah dipengaruhi oleh lingkungannya. Mencuci sapu-tangan, kaus kaki, sarung tangannya, dan bahkan stocking pun barangkali juga harus menggunakan mesin cuci. Akibatnya dia tidak akan pernah mengenal kata ‘cuci pakai tangan’ selama hidupnya. Yang dia kenal hanyalah cuci pakai mesin. Untuk memperkenalkannya mungkin dia harus ‘lahir’ kembali di dunia yang mengenal `cuci pakai tangan’ itu. Dua pandangan yang berbeda ini rupanya bagaikan keping mata uang: kedua sisinya tidak dapat dipisahkan, saling berkaitan. Begitu pula masalah budaya dan bahasa yang saling pengaruh mempengaruhi. Ketidakmampuan kita di dalam mengungkapkan sesuatu ke dalam bahasa lain adalah karena sebenarnya keter­kungkungan kita juga oleh bahasa itu sendiri. Bahasa, sebagai bagian dari budaya, merupakan bentuk perilaku terlatih. Artinya penguasaan terhadap suatu bahasa bukan karena keturunan, melainkan melalui proses belajar. Dan hanya ter­batas pada lingkungan di mana kita berada. Dengan kata lain, hasil budaya suatu kelompok masyarakat hanyalah bisa diung­kapkan secara tepat oleh bahasa­nya sendiri. Tidak oleh bahasa dari kelompok masyarakat yang lain. Contoh sehari-hari yang paling mudah saja, bagaimana orang Prancis akan tahu bahwa selamat pagi itu sebenarnya adalah ‘bon matin’ bukan bonjour; demikian juga bonsoir dan bonne nuit sebenarnya diterjemahkan sama oleh orang Indonesia. Tidak terlintas di dalam benak orang Indonesia bahwa bonne nuit mempunyai makna ‘selamat tidur’, dan…

    07 Jun
    07 Jun
  • Untuk menggambarkan keanekaragaman kuliner Perancis [sic!], Presiden Charles De Gaulle menjuluki Perancis sebagai “Negeri 300 jenis keju”. Sebenarnya, Perancis memiliki lebih dari 1000 macam keju. Dengan demikian, kita akan dapat merasakan satu rasa setiap hari di sepanjang tahun…. Keju bisa saja memiliki rasa daun parsley atau rasa hazelnut, bisa dihidangkan dengan terlebih dahulu dilelehkan atau dalam keadaan dingin, sebagai hidangan utama, di atas nampan tradisional sebelum makanan penutup, atau dioleskan pada roti…. Di Perancis, keju dinikmati dalam berbagai macam bentuk, karena negeri ini merupakan salah satu produsen keju terbesar. Pada tahun 2010, UNESCO memasukan kuliner Perancis dalam daftar warisan budaya kemanusiaan non-benda, yang salah satunya mengedepankan keju Perancis. Perancis memiliki keunikan di antaranya karena keragaman produk kejunya, mulai dari keju comté sampai beaufort atau fourme d’Ambert, tak lupa keju emmental atau gruyère. Kesemuanya itu merupakan keju-keju paling masyhur. Jenis keju gruyère menjadi sorotan di awal tahun 2013. Sebenarnya, produksi keju gruyère Perancis tersebut sudah dilindungi di seluruh Uni Eropa, karena sudah terdaftar dalam Indikasi Geografis yang Dilindungi (IGP), pada Jurnal Resmi Uni Eropa, tanggal 11 Februari lalu. Berbeda dengan produk sejenis dari Swis, gruyère Perancis harus berlubang-lubang, sebagai ciri khasnya. Indikasi geografis yang dilindungi mencakup produksi keju dari daerah Doubs, Jura, Haute-Saône, Savoie, Haute-Savoie, dan Wilayah Belfort. Pada tahun 2012 lebih dari 42 ribu gelondong keju gruyère Perancis dibuat. Sebanyak 45 keju menyandang label AOC (Appelation d’Origine Contrôlée) yakni keju khas yang diproduksi di daerah tertentu di Perancis, dan 38 lainnya berlabel AOP (Appélation d’Origine Protégée), sejenis dengan label AOC namun berskala Eropa. Keju Roquefort merupakan keju pertama yang pada tahun 1925 menerima nama berdasarkan daerah produksi, dan kemudian mendapat pengakuan di seluruh Eropa. Sebuah jaminan untuk melestarikan warisan budaya dan kuliner. Negara-negara lain pun menyukai keju Orang Perancis mengkonsumsi rata-rata 24 kg keju per tahun, per orang, sehingga mereka merupakan konsumen terbesar keju di dunia. Namun keju Perancis juga meraih sukses besar di pasar ekspor. Menurut data statistik Eurostat, di tahun 2011 ekspor keju Perancis mencapai 669.155 ton, dibanding tahun 2007, yang baru mencapai 600.544 ton. Di luar Eropa, para penggemar keju berasal dari Amerika Serikat, Korea Selatan atau Jepang. Mereka menyukai keju segar dan keju putih (dengan konsumsi mencapai 238.665 ton), disusul oleh keju lembek (sebanyak 174.159 ton, 20.379 ton di antaranya berupa keju Camembert dan 67.749 ton keju Brie) lalu keju leleh (64.424 ton). Dengan memanfaatkan trend tersebut, Sentra Industri Susu Nasional Perancis, CNIEL, melancarkan sejumlah kampanye di beberapa negara seperti Rusia, Cina dan Brazil. “Kami terutama membidik para ekspatriat Perancis di negara-negara tersebut, yang sangat merindukan keju, serta orang-orang menengah ke atas, yang mengenal budaya Perancis,” demikian CNIEL menerangkan. Keju Comté, yang merupakan keju yang paling banyak diproduksi di Perancis, memiliki pasar sendiri di luar negeri. Koperasi produsen keju comté mengalokasikan satu juta euro dari 7 juta anggarannya, untuk mendukung penjualan keju ini ke luar negeri. Antara 3.500 dan 4.000 ton keju comté diekspor ke Jerman, Belgia, dan Inggris. Kampanye promosi bisa berbentuk acara mencicip keju di “Café Fromage” (kafe yang khusus menyajikan menu keju) di Jepang, misalnya. Sebuah bentuk komunikasi yang membantu mencapai angka penjualan yang tinggi di negara-negara ini. Di Jepang, sebagai contoh, gerai-gerai keju kecil berkembang di pusat-pusat perbelanjaan, sering kali dikelola oleh para penjual keju yang menerima pelatihan di Perancis dan memiliki jaringan pemasok yang luas. Dari Kelompok Perusahaan Besar Hingga Produsen Kecil Menurut data CNIEL, industri keju di Perancis sangat luas. Sektor ini mencakup 30 ribu produsen susu, 1400 produsen keju, 227 perusahaan keju olahan swasta dan 154 produsen produk makanan dari keju eksklusif. Sektor tersebut hadir di 80% wilayah Perancis, dengan 70 ribu peternakan sapi perah. Industri keju mempekerjakan 150…

    14 Apr
    14 Apr
  • Nikmatnya hidangan, keramahtamahan, dan sambutan nan apik menjadi daya pikat restoran-restoran Perancis [sic!] bagi banyak orang asing. Namun tidak ada takaran ‘keunikan’ atau ‘khayalan’ untuk merasakan pengalaman istimewa di restoran-restoran yang luar biasa. Paris memiliki banyak restoran yang membawa kita ke suasana masa lampau atau tidak lazim… dengan meja-meja privat dan kreatif, petualangan kuliner di tempat terang atau tersembunyi. Suatu jamuan tak terlupakan di Maison de Baccarat yang masyhur… makan malam romantis diiringi para penyanyi opera… makan siang unik ditemani lukisan, patung dan musik secara bersamaan, atau jamuan dalam suatu ruangan yang gelap gulita… Begitu banyak petualangan yang tidak akan membiarkan Anda kelaparan! ‘Keanehan’ menjadi bahan baku baru seni tata boga Perancis ! Demikianlah, banyak pengelola restoran memutuskan untuk memadukan keunikan dan khayalan dalam menawarkan meja-meja inovatif dan di luar kelaziman. Bukankah menggabungkan kesenangan pikiran dan makanan merupakan jaminan terbaik suksesnya acara makan di luar rumah! Termasyhur di seantero dunia, Maison Baccarat adalah sebuah nama yang melegenda bagai dentingan kristal, yang berlokasi di hotel megah Marie-Laure de Noailles, di arrondissement ke-16 Paris, dan dirancang ulang oleh perancang Philippe Starck menyerupai ruang-ruang tamu Cristal Room yang terkenal, lambang keagungan Perancis. Restoran Cristal Room Baccarat yang berada di lantai pertama itu mengundang pengunjung untuk menikmati hidangan yang dipersiapkan dengan selera tinggi oleh Guy Martin, Chef terkenal dengan reputasi internasional. Dekorasinya luar biasa dengan kemewahan, dekadensi dan trendnya. Gaya Barok chic dengan lampu-lampu kristal gantung… marmer, cermin berpigura emas, kayu, batu bata, panel-panel membentuk kesatuan yang harmonis. Ruang kecil merah muda dengan teras pribadi tampak amat luar biasa. Dan sambutan hangat yang diberikan menarik sekelompok pelanggan anggun yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Di Paris, restoran Dans le noir ‘menerjunkan’ para pelanggan dalam kegelapan total, sesuai dengan namanya yang artinya ‘dalam kegelapan’. Konsep permainan panca indra ini mengajak pelanggan untuk tidak menggunakan penglihatan dan berfokus pada indra penciuman, perasa, peraba, dan pendengaran. Dalam kegelapan hanya beberapa bunyi dan bisikan saja dapat mengalihkan perhatian para tamu dari mencicip menu kejutan. Disesuaikan dengan musim, hidangan tak lazim yang ditawarkan, disuguhkan oleh para pelayan tuna netra, dan baru diungkapkan kepada pelanggan di akhir acara makan. Dengan lebih dari 150 ribu pengunjung sejak dibuka pada tahun 2004, Dans le noir berhasil menawarkan pengalaman indrawi yang ‘nyeleneh’ di London, Barcelona, dan Saint-Petersbourg. Saat mendorong pintu restoran Bel Canto, pengunjung dibanjiri nuansa keemasan, warna safran dan api. Di tempat ini, setiap malam sekelompok seniman, penyanyi liris dan pianis, baik yang profesional maupun mahasiswa konservatorium yang mengenakan berkostum panggung, memainkan dua peranan: melayani para tamu dan membawakan nyanyian aria terkenal. Bel Canto sebenarnya merupakan pertemuan antara dua dunia, yakni musik liris dan seni tata boga. Nama para penggubah musik besar seperti Verdi, Puccini, Mozart, Offenbach atau Satie ada dalam program mereka. Para penyanyi secara duo, kuartet atau solo, tampil membawakan cuplikan opera Carmen atau The magic flute, dari meja ke meja, sambil mengulurkan piring hidangan atau menuangkan minuman. Bel Canto pertama membuka pintu-pintunya pada tahun 2000 di atas dermaga di tepian sungai Seine di Hôtel de Ville, kemudian di Neuilly pada tahun 2004, dan di London tahun 2008. Berada di persimpangan seni rupa, seni tata boga kreatif, minuman anggur eksklusif dan koleksi, restoran ‘1728’ setiap tahunnya menerima 40 ribu pengunjung. Di lokasi berkelas dan luar biasa yang terletak di antara Madeleine dan Elysée ini, sebuah kastil pribadi didirikan pada tahun 1728 oleh Antoine Mazine (ksatria dan arsitek Raja Louis XV), tempat bangsawan Perancis Marquis de La Fayette hidup, dimana seni kuliner bertemu dengan seni lukis, patung dan musik. Orang datang ke sana untuk menikmati suasana yang kaya akan nuansa sejarah, dan juga untuk menikmati karya-karya masa lalu, meubel langka, panel-panel…

    14 Apr
    14 Apr
  • Film Tintin karya sutradara Amerika Spielberg yang berhasil meraih sukses besar di dunia mengisahkan petualangan tokoh kartun berbahasa Perancis [sic!]. Seperti halnya Tintin, jutaan penutur Perancis di seluruh dunia terus menggunakan dan mempelajari bahasa Perancis, bahasa yang betul-betul hidup dan modern. Jumlah penutur bahasa Perancis meningkat tiga kali lipat sejak enam puluh tahun yang lalu. Berlawanan dengan kepercayaan umum, popularitas bahasa Perancis tidak menurun, bahkan sebaliknya. Menurut Pusat Analisis Bahasa Perancis (Observatoire de la langue française), jumlah penutur bahasa Perancis di seluruh dunia mencapai 220 juta orang. Hal itu menempatkan bahasa Perancis di peringkat ke-8 bahasa internasional. Dalam kategori bahasa resmi negara, bahasa Inggris menduduki urutan pertama karena merupakan bahasa resmi di 63 negara, diikuti oleh bahasa Perancis, yang menjadi bahasa resmi 36 negara. Tidak ada istilah perang bahasa, kita dapat belajar dan berbicara bahasa Inggris sekaligus bahasa Perancis. Bahasa-bahasa tidak saling menutup diri satu sama lain dan jumlah penutur bahasa Perancis sendiri terus berkembang. Seperempat guru bahasa di dunia mengajarkan bahasa Perancis kepada 100 juta orang siswa, ditambah lagi dengan kiprah jaringan Alliances françaises dan juga perkumpulan penutur dan pecinta bahasa Perancis. Di lingkungan Uni Eropa, bahasa Perancis merupakan bahasa asing pilihan pertama, setelah bahasa Inggris, di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Jadi bahasa Perancis menjadi bahasa kedua yang paling banyak dipelajari di 27 negara anggota Uni Eropa, 14 negara di antaranya merupakan anggota Organisasi Frankofoni Internasional (Organisation internationale de la Francophonie). Di Afrika dan bahkan di Asia Tenggara, bertentangan dengan praduga, minat terhadap bahasa Perancis tidak surut. Selain itu, Nigeria yang akan menjadi negara dengan penduduk terpadat ketiga di dunia dalam 50 tahun ke depan, telah mewajibkan pengajaran bahasa Perancis sebagai bahasa kedua. Sebuah bahasa yang berguna Sebagian besar penutur bahasa Perancis sepakat untuk membela bahasa Perancis dengan argumen bahwa bahasa ini merupakan bahasa yang indah, yang membuka cakrawala akan kekayaan dan kekhasan budaya yang tak terbantahkan. Hal itu tidak salah. TV5, televisi berbahasa Perancis merupakan saluran televisi internasional dengan daya jangkau terluas, setelah MTV dan CNN. Di Amerika Serikat, 30% buku terjemahan berasal dari bahasa Perancis sementara film asing yang beredar di sana setengahnya dikuasai oleh film Perancis. Namun, melampaui alasan budaya, salah satu argumen terkuat yang membuat seorang siswa memutuskan untuk belajar bahasa Perancis adalah karena bahasa Perancis berguna dan bahkan perlu, bukan hanya di lingkungan lembaga internasional maupun lembaga Eropa. Menguasai bahasa Perancis merupakan aset untuk pembangunan ekonomi. Jean-Benoît Nadeau, penulis buku Le français, quelle histoire ! (Bahasa Perancis, Sungguh Suatu Kisah Luar Biasa!), mengingatkan bahwa jaringan perusahaan ritel kedua terbesar di dunia setelah Wal-Mart adalah Carrefour yang berasal dari Perancis. Jaringan ini hadir di 34 negara, sementara pesaingnya dari Amerika hanya berekspansi ke 15 negara saja. Kita pun teringat bahwa perusahaan energi nuklir sipil terbesar di dunia, Areva, berpusat di Paris, demikian juga perusahaan Alstom, salah satu perusahaan terkemuka di dunia di bidang infrastruktur dan angkutan kereta api, produksi dan transmisi tenaga listrik. Ketangguhan bahasa Perancis tersebut diperoleh pertama-tama berkat penyebarannya yang mendunia. Dua per tiga penutur bahasa Perancis yag tersebar di berbagai pelosok dunia menguasai bahasa Perancis bukan sebagai bahasa ibu mereka. Bahasa Perancis seperti halnya bahasa Inggris merupakan bahasa dunia yang dipelajari dan digunakan oleh para penuturnya yang memang menguasai banyak bahasa. Académie française, lembaga yang sudah berusia ratusan tahun dan panji yang menjaga agar bahasa Perancis digunakan dengan baik dan benar, mengandalkan ke-35 akademisinya. Lima di antaranya merupakan akademisi yang berasal dari luar Perancis. Assia Djebar berkewarganegaraan Aljazair, ibu dari Hélène Carrère d’Encausse seorang wanita Rusia, Amin Maalouf berasal dari Libanon, François Cheng terlahir sebagai orang Tionghoa, sementara Hector Bianciotti dibesarkan di Argentina. Sebagai bukti tak terbantahkan dinamismenya dalam berkarya, sejak tahun…

    14 Apr
    14 Apr
  • Enam puluh tiga tahun silam, kami lahir membawa idealisme untuk mendidik manusia Indonesia yang berkarakter, tangguh, berwawasan luas, dan memiliki visi untuk membangun bangsa. Enam puluh tiga tahun yang lalu, kami menebar asa untuk turut membesarkan Universitas Indonesia sebagai garda terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia. Dan hari ini, keinginan untuk terus berjuang itu semakin menyala-nyala, tak lekang oleh terpaan hujan dan badai yang datang silih berganti. Kami hanya ingin berbuat yang terbaik bagi keluarga besar kami, fakultas, universitas, dan tentu saja bangsa ini.

    05 Apr
    05 Apr
  • Selamat Datang di Situs Resmi Program Studi Prancis Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Selain menjadi media komunikasi internal antara program studi, mahasiswa, dan alumni, situs ini juga bertujuan untuk mendukung serta memberi kedalaman informasi yang dirilis oleh situs resmi UI dan FIB UI terkait Program Studi Prancis. Anda akan dapat menemukan banyak informasi singkat dan padat dalam situs ini. Layaknya situs yang baru, kami berencana akan terus membangun dan mengembangkan situs sebagai upaya untuk meningkatkan program pengabdian kepada masyarakat yang menjadi salah satu bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi. Kami menganggap bahwa publik sudah selayaknya mengetahui apa, siapa, dan bagaimana kiprah Program Studi Prancis FIB UI di masa lalu, kini, dan yang akan datang.

    05 Apr
    05 Apr
  • Selama 4 tahun atau 8 semester berjalan, sejak tahun 2010 hingga 2014, Program Studi Prancis FIB UI berhasil mengirimkan 12 (dua belas) mahasiswa dalam program double degrée ke Prancis. Mereka tersebar pada dua kampus yakni, Unité de Formation et de Recherche INGENIERIE du TOURISME, du BATIMENT et des SERVICES (UFR I.T.B.S) de l’Université d’Angers dan INALCO (Institut des Langues et Civilisations Orientales) di Paris. Pada kampus Université d’Angers, dua mahasiswa yang dikirim setiap tahunnya disebar pada dua lokasi yang berbeda. Satu di kota Angers, dan yang lain berkuliah di kota, Saumur, tempat Le Campus de Saumur (Université d’Angers) berada. Berikut adalah daftar nama mahasiswa yang pernah mengikuti program tersebut.

    04 Apr
    04 Apr
Goto :

Kami akan menjawab email Anda dalam 24 jam, kecuali pada hari libur. Semua email yang masuk akan kami jaga kerahasiaannya.

Terima kasih telah menghubungi kami.

Enter a Name

Enter a valid Email

Message cannot be empty